Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: 658 Orang Diduga Keracunan MBG di Grobogan, Puluhan Masih Dirawat
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Peristiwa

658 Orang Diduga Keracunan MBG di Grobogan, Puluhan Masih Dirawat

By Redaksi Indoraya
Minggu, 11 Jan 2026
Share
3 Min Read
Ilustrasi MBG. (Foto: istimewa)
SHARE

INDORAYA – Kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berdampak luas. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan mencatat sebanyak 658 orang terdampak sejak Jumat (9/1) hingga Sabtu (10/1) di wilayah Kecamatan Gubug.

Kepala Dinkes Kabupaten Grobogan, Djatmiko, menyampaikan bahwa ratusan korban tersebut berasal dari berbagai satuan pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMK, hingga PAUD dan santri pondok pesantren di sejumlah desa terdampak.

“Total korban sementara ada 658 orang, dengan lokasi terdampak meliputi Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, Trisari. Dari jumlah tersebut sebagian besar sudah ditangani, baik melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan,” ucapnya di Grobogan, Minggu.

Berdasarkan data sementara, korban tersebar di SMP, SMK, dan SD negeri di wilayah Ngroto, PAUD Ngroto, SD Glapan, SD Trisari, serta SD Penadaran. Seluruh korban diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1).

Makanan MBG tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron. Hingga Minggu (11/1) pagi, 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Rinciannya, 11 orang dirawat dari Pondok Pesantren Miftahul Huda, 39 orang di RS Ki Ageng Getas Pendowo (Gubug), 11 orang di RS Soedjati, sembilan orang di UPTD Puskesmas Penawangan 1, tujuh orang di Puskesmas Kedungjati, serta dua orang di Puskesmas Gubug 1.

“Jumlah ini bersifat dinamis. Ada pasien yang kondisinya membaik dan dipulangkan, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam,” kata Djatmiko.

Djatmiko menjelaskan, keluhan yang paling banyak dialami korban berupa mual dan muntah. Gejala tersebut diduga muncul setelah korban mengonsumsi MBG berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek pada Jumat (9/1) siang. Keluhan mulai dirasakan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi.

Sebagai respons cepat, sejak Sabtu (10/1) pagi, Dinkes Grobogan bersama puskesmas setempat melakukan penanganan medis, pendataan korban, serta pemilahan pasien berdasarkan tingkat keparahan kondisi.

“Kami melibatkan beberapa puskesmas terdekat agar penanganan lebih cepat. Pasien yang tidak memerlukan rawat inap ditangani di lokasi, sementara yang membutuhkan perawatan lanjutan langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Selain penanganan medis, Dinkes Grobogan juga melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium kesehatan pada Senin (12/1) guna memastikan penyebab pasti kejadian keracunan tersebut.

Djatmiko menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap Standar Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) bagi seluruh penyedia layanan makanan, termasuk SPPG, terutama terkait waktu distribusi makanan.

“Pemberian makanan tidak boleh molor. Jika terlalu lama, lebih dari empat jam, kualitas makanan dapat menurun dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan,” ujarnya.

TAGGED:Keracunan MBGmbg groboganratusan orang keracunan mbg grobogan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Prancis dan Kanada Resmi Buka Konsulat di Nuuk, Tegaskan Dukungan untuk Greenland Sabtu, 07 Feb 2026
  • Gajah Sumatera Ditembak Mati di Pelalawan, Belalai dan Gading Hilang Sabtu, 07 Feb 2026
  • Kepala KPP Madya Banjarmasin Mulyono Akui Terima Suap Restitusi Pajak, Kini Ditahan KPK Sabtu, 07 Feb 2026
  • Budisatrio Tegaskan “Kompak, Bergerak, Berdampak” di HUT ke-18 Gerindra DPR RI Sabtu, 07 Feb 2026
  • HUT ke-18 Gerindra, Prabowo Ingatkan Kader Jaga Uang Rakyat dan Hindari Perbuatan Tercela Sabtu, 07 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko: Pendidikan Merata Kunci Daya Saing Jawa Tengah Jumat, 06 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Primer di Jawa Tengah Jumat, 06 Feb 2026

Berita Lainnya

Peristiwa

Nekat Menerobos Jalan Saat Hujan Deras, Remaja Tegal Jatuh ke Selokan, Ditemukan Tewas di Sungai

Kamis, 05 Feb 2026
Peristiwa

Temanggung Siapkan Ribuan Bibit untuk Atasi Lahan Kritis di Lereng Sumbing, Sindoro, hingga Prau

Kamis, 05 Feb 2026
Jateng

Korban Keracunan MBG Jateng Capai 1.000 Orang di Awal 2026, Tak Ada Laporan ke Polisi

Kamis, 05 Feb 2026
Peristiwa

Ahmad Luthfi Siapkan Huntara untuk Pengungsi Tanah Bergerak Tegal, Relokasi hingga Huntap Jadi Prioritas

Rabu, 04 Feb 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?