INDORAYA – Pemerintah Kabupaten Batang menyiapkan penanaman padi jenis Biosalin di lahan seluas 530,29 hektare pada tahun 2026. Program ini difokuskan di Kecamatan Batang dan Kandemen sebagai langkah strategis mengoptimalkan sawah terdampak rob sekaligus mendukung target swasembada beras daerah.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang Sutadi Ronodipuro menjelaskan, pengembangan padi Biosalin dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Perakitan Modernisasi untuk memulihkan produktivitas lahan yang selama ini terpengaruh intrusi air laut.
“Sudah 20 hari ini kami sudah mengujicoba padi jenis Biosalin di Kelurahan Kasepuhan seluas satu hektare yang didukung Badan Perakitan Modernisasi Pertanian dan Badan Riset Inovasi Nasional. Semoga di masa panen nanti berdampak positif yang siginifikan, yang rencananya akan disebarluaskan ke lahan petani terdampak rob,” tegasnya saat ditemi di kantornya, Jumat (9/1/2026).
Sutadi menyebutkan, sebelum terdampak rob, lahan pertanian di wilayah tersebut mampu menghasilkan panen hingga 10 ton gabah per hektare. Oleh karena itu, keberhasilan uji coba Biosalin diharapkan mampu mengembalikan sebagian produktivitas yang hilang.
“Jika capaian panennya nanti bisa 50 persen, tentu sangat menggembirakan bagi petani,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari optimalisasi lahan produktif di sepanjang jalur Pantura. Pada 2025, implementasi program serupa tercatat mampu menghasilkan 170 ribu ton gabah kering dan berkontribusi terhadap target swasembada beras daerah sebesar 8,5 persen.
Pemkab Batang berharap pengembangan padi Biosalin dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi petani di kawasan pesisir, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan rob yang terus berulang.


