Ad imageAd image

200 Kasus Leptospirosis Tercatat di Jateng Hingga Mei, 26 Pasien Meninggal

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 871 Views
2 Min Read
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Irma Makiah. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencatat sebanyak 200 kasus penyakit zoonosis leptospirosis yang terdeteksi mulai dari bulan Januari hingga Mei 2024.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jateng, Irma Makiah. Berdasarkan data, dari 200 kasus, 26 pasien dilaporkan meninggal dunia akibat bakteri leptospira.

Dia juga mengatakan, temuan kasus leptospirosis di Jateng terbanyak yaitu berada di Kabupaten Demak dengan 50 kasus. Disusul Banjarnegara 22 kasus dan Kota Semarang 19 kasus.

BACA JUGA:   Bersinergi Cegah Stunting, Lazis Jateng dan Dinkes Semarang Luncurkan Gerakan Anak Sehat

“Kematian terbanyak di Pati, empat orang, kalau Semarang dan Demak kematiannya sama, tiga orang. Terus Banjarnegara satu orang. Kabupaten/kota lainnya sama, antara satu sampai tiga orang,” kata Irma saat dihubungi, Sabtu (1/6/2024).

Sebagai upaya menekan leptospirosis ini, Dinkes Jateng berupaya melakukan penanganan hingga deteksi dini di 35 kabupaten/kota. Yakni dengan melakulan intervensi kepada masyarakat, vektor atau hewan yang membawa virus leptospira dan lingkungan.

Intervensi di masyarakat dilakukan dengan edukasi pentingnya pola hidup bersih dan sehat. Selain itu menjaga kebersihan, terutama ketika ada genangan air. Karen  leptospirosis disebabkan air kencing hewan yang bercampur dengan genangan air dan mengenai manusia.

BACA JUGA:   Bakal Lakukan Perbaikan, Pemkot Surakarta Tinjau Rumah Tidak Layak Huni

“Terus kalau punya luka terbuka ditutup plaster. Kemudian jaga lingkungan, bersihkan tumpukan kardus di rumah agar tak jadi sarang tikus. Itu semua tujuannya agar tak mudah terkontaminasi bakteri leptospira,” ungkap Irma.

Selain itu, untuk intervensi vektor dan lingkungan, Dinkes Jateng menjalin kerja sama dengan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBLKL) atau sektor terkait di tiap kabupaten/kota.

Menurut Irma, kerja sama ini sangat penting dan diharapkan bisa membasmi sarang maupun vektor jenis tikus yang selama ini menjadi vektor penularan virus leptospira.

BACA JUGA:   Pemkot Surakarta Terjunkan Tim Patroli, Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas

“Karena selama ini, tantangan kami itu di musim hujan tiap akhir dan awal tahun, populasi tikus selalu naik, sementara predator alaminya, ular, semakin berkurang karena sudah banyak perumahan tumbuh. Belum lagi ditambah kesadaran masyarakat kadang masih kurang,” ujar dia.

Share this Article