INDORAYA – Sebanyak 2.357 jiwa dari 11 desa di Kecamatan Pulosari dan Moga, Kabupaten Pemalang, terpaksa mengungsi pasca diterjang banjir bandang pada Jumat (23/1/2026) malam.
Kepala Bidang Pengendalian Operasi BPBD Jateng, Armin Nugroho mengatakan, warga memilih pola “siang pulang, malam mengungsi” sebagai bentuk kewaspadaan ekstrem menghadapi potensi banjir susulan. Pola ini muncul karena akses telah pulih namun kecemasan warga masih tinggi.
“Akses sudah bisa. Biasanya warga beraktivitas di siang hari, membersihkan rumah. Sebagai bentuk kewaspadaan, malamnya baru ke tempat pengungsian. Rata-rata begitu,” jelasnya saat dihubungi Indoraya.news, Senin (26/1/2026).
Kerusakan akibat banjir bandang di dua kecamatan itu cukup parah. Data BPBD menunjukkan setidaknya 12 rumah rusak berat dan 7 rusak sedang di Desa Penakir, serta 33 rumah terdampak dan 12 rusak berat di Desa Sima, Kecamatan Moga.
Amin mengatakan, infrastruktur juga lumpuh, dengan total 16 jembatan putus, termasuk dua jembatan penghubung vital Dusun Silegok-Sipendil di Desa Gunungsari.
“Prioritas utama sekarang adalah pemenuhan kebutuhan dasar di pengungsian, seperti dapur umum di tujug titik. Sambil itu, kita buatkan jembatan sementara untuk akses,” tegas dia.
Selain banjir bandang, bencana tanah longsor yang juga melanda Kabupaten Pemalang pada Minggu (25/1/2026) pagi, menyebabkan dua warga hilang tertimbun.
Hingga Senin (26/1/2026), operasi pencarian (Opsar) terhadap Hamim (60) dan Aksinudin (40) masih berlangsung di area persawahan Dukuh Siranti, Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul.
Longsor yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi tersebut menimbun area persawahan padi seluas satu hektare berikut ternak kambing milik warga.
Pencarian yang melibatkan unsur Basarnas, Polisi dengan K-9, TNI, dan relawan ini terkendala medan curam dan cuaca ekstrem yang masih berpotensi hujan deras.
“Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian dua warga yang hilang di Watukumpul. Medan curam dan cuaca yang masih berpotensi hujan menjadi kendala utama,” jelas Armin.
Meski menghadapi kendala, tim berhasil menemukan cangkul milik korban sebagai titik pencarian. Posko Opsar telah didirikan di samping rumah korban untuk memusatkan koordinasi.


