INDORAYA – Sebanyak 111.788 warga terdampak bencana di wilayah Sumatera hingga kini masih tinggal di pengungsian. Data tersebut dicatat oleh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Provinsi Aceh.
“Total secara keseluruhan pengungsi sampai dengan kemarin itu ada 111.788,” kata Juru Bicara
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera, Amran, dalam jumpa pers Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).
Rinciannya, pengungsi di Sumatra Barat tercatat 9.040 jiwa, Sumatra Utara 11.085 jiwa, dan Aceh menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi yakni 91.663 jiwa.
Meski jumlahnya masih besar, Amran menyebut tren pengungsi menunjukkan penurunan secara bertahap.
“Saat sekarang ini untuk pengungsi ini ada penurunan dari beberapa waktu ke waktu terus berkurang. Karena ini memang diharapkan semua pengungsi nanti tidak berada lagi di dalam pengungsian,” ucapnya.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mempercepat penyediaan hunian bagi warga terdampak. Dari total rencana 17.231 unit Hunian Sementara (Huntara), sebanyak 4.281 unit telah selesai dibangun.
Sementara itu, Dana Tunggu Hunian (DTH) yang sudah tersalurkan kepada masyarakat di tiga provinsi terdampak mencapai 5.932 penerima.
Di Aceh, pembangunan Huntara telah rampung sebanyak 3.248 unit. Adapun warga yang memilih skema DTH tercatat 9.766 jiwa.
“Rekening DTH yang sudah diterima yaitu sebesar 2.559. Ini sementara kita terus berproses, terus meminta data yang lebih lengkap di lapangan,” jelas Amran.
Untuk wilayah Sumatra Utara, Huntara yang telah terbangun mencapai 557 unit dari rencana 962 unit. Warga yang memilih DTH berjumlah 6.550 jiwa.
“Sementara (DTH) yang sudah tersalurkan adalah 1.168,” ucapnya.
Sementara di Sumatra Barat, 476 unit Huntara telah selesai dari target 618 unit. Penyaluran DTH juga telah menjangkau 1.685 penerima dari total 2.004 jiwa yang terdata.
Bencana banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar pada akhir November 2025, dipicu hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari.
Saat ini pemerintah masih melakukan pembersihan material kayu gelondongan dan lumpur sisa banjir bandang. Selain itu, pembangunan kembali infrastruktur seperti jalan dan jembatan juga terus dilakukan guna memulihkan aktivitas masyarakat pascabencana.


